RENUNGAN: Orang Cerdas tak Pernah Menyalahkan Orang Lain

AKHIR-AKHIR ini dengan gampang sekali sebagian orang-orang berani melabeli dirinya paling benar, paling suci, paling ahli ibadah dan paling cerdas. Bahkan dengan mudahnya bilang orang lain dungu, bodoh, tidak cerdas dan idiom-idiom negatif lainnya.

Apalagi dalam tahun politik ini, tak jarang banyak golongan yang menggunakan alat agama sebagai cara untuk meraih suara, menggaet simpati sebanyak-banyaknya dengan segala cara.

Maka isu apa pun atau hal-hal apa pun yang bisa dijadikan alat perang untuk menyerang lawan pilihan atau yang berseberangan pandangan politiknya. Tak segan-segan, mengolok-ngolok, mencaci, menghujat, menyerang tanpa ada etika sama sekali. Sudah sedemikian parahkan etika berpolitik masyarakat kita?

Mereka membentuk tim dengan dalih jihad dengan mencari alat pembenaran, entah logika berpikir, petikan ayat dengan kedok agama untuk dijadikan alat untuk meyakinkan kepada khalayak ramai bahwa benar pilihannya. Apalagi saat ini, banyak ulama kita merasa bahwa kini tontonan telah menjadi tuntunan dan tuntunan berubah jadi tontonan.

Tak bisa dipungkiri, saat ini tuntunan segala sesuatu di dunia yang dijadikan panutan adalah ‘Mbah Google’. Tak peduli itu informasi benar atau salah sesuai tuntunan Kita Suci atau tidak, mereka tak peduli. Yang penting telah menjadi trending topic dan populer serta bisa dijadikan rujukan.

Cilakanya bila hal itu berhubungan dengan ajaran yang terkandung dalam Kitab Suci. Umumnya saat ini banyak orang lebih condong mencari tuntunan di internet dibandingkan dengan langsung mengaji, mengkaji Kitab Sucinya.

Akhirnya, begitu mendapat kiriman atau share di group langsung diyakininya kebenarannya dan langsung dishare dengan dibumbui kata-kata yang tanpa sadar telah mengejek, mencaci dan sebagainya. Padahalnya, dirinya tidak tahu pasti ilmu yang dia sebarkan tersebut benar atau salah rujukannya.

Akibatnya dengan tanpa dosa dengan gampang dan tanpa beban telah berani mengharamkan yang Sang Pencipta halalkan dan menghalalkan yang Sang Pencipta haramkan.

Dampaknya, bisa ditebak akan muncul kegaduhan, saling serang dan hujat tanpa kesudahan akan terus menghiasi sosial media kita. Entahlah apa yang mereka dapatkan dalam hal itu? Hanya dialah yang bisa menjawabnya.

Hal ini pun juga ramai jadi perbincangan di warung Mbah Man. Mbah Man pun hanya memberi usulan dan pesan. “Bila mencari tuntunan dan mencari surga Alloh, kajilah Kitab Sucimu dari awal hingga terakhir alias katham. Tidak asal khatam-khataman, tapi tahuk makna dan hikmahnya, tak hanya tahu tahu artinya saja,

Yang paling penting adalah arti, makna, asbabul nuzul dan hikmah di dalam ilmu tersebut. Lalu terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan beribadahlah sesuai ilmu yang kalian kaji dengan niat Alloh dengan tujuan hanya mencari wajah Alloh.

Dipastikan kata Mbah Man, Anda akan semakin taat beribadah dan semakin takut menyakiti hati orang lain. Tidak gampang terpengaruh akan provokasi apalagi hasutan orang lain. Apalagi hanya sekadar pilihan di Tahun Politik.

Anda akan lebih lebih bijak dan beretika dalam menghadapi perbedaan dan selalu dalam lindungan Tuhan. Kerukunan dan amal ibadah Anda akan semakin kuat dan tergolong orang cerdas karena tolak ukur orang cerdas adalah mereka yang selalu mempersiapkan bekalnya di akhirat nanti. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*