Kisah Usman bin Ka’ab, Malaikat Antar Gaji dan Upahnya Bekerja

CATURWASKITOEDY.COM — Resesi yang melanda Negeri Mekkah yang berkepanjangan membuat orang kecil seperti Usman bin Ka’ab kalang kabut. Dia harus pontang panting mencari kerja serabutan setiap hari sekadar untuk menyambung hidup keluarganya.

Apalagi  banyak juragan yang mengencangkan ikat pinggang, mereka tidak butuh tenaga Usman. Jangankan untuk pekerjaan halus, pekerjaan kasar seperti memandikan onta saja, tidak ada yang memberikannya.

Saking bingungnya Usman bin Ka’ab curhat kepada Rasulullah. “Berjalanlah ke barat, kalau kau ketemu masjid , berhentilah, lalu adzan dan solatl ah disitu, lalu kamu bersihkan masjid itu,” kata Rasulullah.

Setelah berjalan sehari penuh, dengan sangat lelah Usman menemukan sebuah masjid.

Sesuai pesan Rasulullah dia adzan dan solat, dan atas seijin takmir dia akhirnya menjadi marbot di masjid tersebut.

Karena ketekunan Usman, seluruh jamaah dan takmir masjid menyukai pekerjaannya. Ketika dia sudah cukup lama bekerja, dia berpamitan untuk pulang menengok anak dan isterinya.

Dia diberi uang dan bekal yang cukup banyak untuk menafkahi keluarganya. Namun yang terbayang oleh Usman mungkin anak isterinya mati kelaparan karena waktu ditinggalkan tidak ada secuil makanan pun yang dia tinggalkan untuk mereka.

Namun betapa kagetnya ketika dia pulang mendapati anak isterinya baik-baik saja, sehat sejahtera dan hidup makmur. Ditengok isi rumahnya, berkarung-karung gandum, banyak simpanan makanan .

Lalu Usman menghunus pedang,” Dari siapa semua rejeki ini kau dapatkan?” tanya Usman pada isterinya.

”Setiap bulan ada seorang lelaki yang mengantarkan gandum dan gajimu ke rumah ini,’ jawab isterinya .

Namun dada Usman masih mendidih sebelum akhirnya dia sempatkan diri untuk berkonfirmasi pada rasulullah.

”Aku kerja keras jauh dari rumah, namun isteriku menerima pemberian dari lelaki tak dikenal ang selalu datang ke rumah, Izinkan aku menghukum isteriku ya Rasul,” kata Usman.

Namun hatinya bergetar setelah mendengar penjelasan Rasullulah.

“Lelaki yang datang ke rumahmu dengan membawa rejeki itu adalah malaikat, karena ketekunanmu bekerja dan kepasrahanmu pada Allah dibayar tunai dengan datangnya lelaki itu ke rumahmu,” jawab Rasulullah.

Tubuh Usman bin Ka’ab menjadi lunglai. Hampir saja keimanan dan kepasrahan pada Allah dan Rasulnya tergoda oleh api cemburu.

“Kira-kira Bisa gak kasus itu dipraktekkan dalam jaman sekarang, ya Mbah,” ujar Fulan seolah menyindir cerita Mbah Man di warung itu.

“Kamu harus banyak mengaji dan mengerti makna Kitab Sucimu, karena ini bahasa hati dan keyakinan,” jawab Mbah Man pelan.

“Loh, apa hubungannya cerita itu dengan mengaji mbah?” debat Fulan.

“Karena dengan mengaji hadist yang meriwayatkan kisah sahabat tadi ada di situ, seperti apa Asbabul Nuzulnya dan apa pesan Nabi yang tersirat di kisah tadi. Kalau kamu tidak mengkaji hadist dan kitab sucimu yang kamu yakini sebagai pedoman hidup. Kamu hanya berbekal akalmu saja, akal itu yang sesuai ilmumu di dunia,” jelas Mbah Man.

Memang sudah selayaknya manusia itu memperlajari Kitab Suci yang diyakini agar Mbalung Sumsung agamanya. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*