Filosofi Bebas, Puas dan Tidak Puas = Orgasme

KEMAREN sore di warung Mbah Man ramai berdebat tentang hasil lembaga survei tentang tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah di bawah kepemimpinan saat ini.
“Puas tidak puas kan itu hanya sudut pandang seseorang, tidak bisa dijadikan patokan,” kata Fulan sedikit keras.
“Terus patokannya apa, jangan hanya karena engkau tidak cocok dengan figur pemimpin itu, semua programnya engkau anggap tidak memuaskan semua,” balas Rojul.
Melihat hal itu, Mbah Man hanya geleng-geleng kepala melihat dua pembeli warungnya ini, karena sejak pilpers dulu mereka berdebat bersitegang. Anehnya, habis itu nanti mereka pergi berdua mancing atau hanya sekedar jalan-jalan dan nongkrong di Simpanglima.
Tapi entahnya, sambil tersenyum Mbah Man membayangkan apakah saat mancing, berboncengan berdua akan selalu berdebat soal apa pun, seperti itu?
Setelah tidak ada titik ketemu, keduanya melirik Mbah Man. Dengan bijak Mbah Man memberikan jawaban. “Sudahlah, bila mendengar sesuatu yang belum pasti atau hanya hasil survei jangan ditelan mentah dan dijadikan patokan sebagai pembenaran,” ujar Man. Siapa tahu tahu, nanti ada survei pembanding, lalu pendukung dan banyak lagi entah apa namanya.
“Mari kita simak dulu hasilnya survei ini, kata Mbah Man. Konon, berdasarkan temuan pihak survei menunjukkan kalau tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah saat ini sudah tinggi. Hal itu dibuktikan adanya sekitar 60 persen masyarakat Indonesia yang merasa kinerja pemerintah sudah baik,” kata Mbah Man.
Meski begitu, masih ada sekitar 30 persen lebih masyarakat yang merasa tidak puas dengan kinerja pemerintahan saat ini. Tingkat ketidakpuasan publik terhadap kinerja pemerintah berada pada angka 34.1 persen dengan 3,5 persennya tidak memberikan respon.
Adapun dari hasil temuan itu dominan masyarakat yang merasa tidak puas dengan kinerja pemerintahan saat ini yakni berdomisili di Kalimantan, Sumatera, Jawa Barat, Maluku dan Papua. Di mana persentase responden yang merasa tidak puas di ketiga wilayah tersebut mencapai lebih dari 40 persen.
Tingkat kepuasan terhadap kinerja pemerintah tertinggi berada di wilayah Jawa Tengah & DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali, NTB & NTT. Sementara tingkat kepuasan terendah berada di wilayah Maluku & Papua, Kalimantan, dan Sumatera. “Sudah jelas kan petanya,” kata Mbah Man.
Meski tingkat kepuasan masyarakat berada di atas 60 persen, kata pemilik survei kalau angka itu cenderung menurun sejak Januari 2021 hingga Juli 2021. Dimana pada Januari 2021 tingkat kepuasan masyarakat berada pada angka 64,0 persen, lalu meningkat di bulan Februari dengan angka 64,6 persen.
Angka kepuasan tersebut kembali meningkat pada Maret 2021 yang mencapai 65,3 persen dan turun ke angka 62,4 persen pada pertengahan Juli 2021. Artinya meskipun masih berada di atas 60 persen, terdapat kecenderungan penurunan tingkat kepuasan kinerja pemerintah dibandingkan dengan survei periode sebelumnya.
Itu semua adalah hasil ilmu survei dan teori yang bagi orang awam tidak tahu, dari metode dan cara pengambilan sampelnya. Yang pasti dari hasil survei itu diharapkan bisa memakmurkan masyarakat, minimal untuk mengambil langkah agar Negeri ini sejahtera? Benarkah, dengan utang yang semakin menumpuk tanda akan sejahtera? Kalao soal itu, tanyakan saja pada pemangku Negeri ini,” ujar Mbah Man sambil ngeloyor pergi ke belakang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*