Sandal Jepit dan Tas Gandum

CATURWASKITOEDY.COM — Sandal jepit dan tas gandum adalah perkakas yang selalu saya bawa saat meliput berita. Entah, kenapa saya merasa nyaman bila menggunakan dua alat tersebut.

Seringkali saya malah lupa memakai kartu pers atau baju seragam kebesaran yang diberikan kantorku.

Hari itu, sekira pukul 14.30 WIB saya ditelepon oleh seorang Narasumber yang tugasnya menangani tentang lampu lalu lintas.

Saat itu di Pangkalpinang sebelum menjadi ibukota provinsi seingatku baru ada dua lampu merah, yaitu di perempatan menuju pasar dan perempatan Mentok jalan menuju Bangka Barat.

Saat itu, saya langsung menuju ke lokasi, saya melihat Sang Bapak  yang murah senyum itu langsung menyapaku.

Aku selalu senang melihat dirinya karena ramah dan banyak senyum.

Setelah memotret dengan FM2 yang tidak begitu aku mahir dan wawancara secukupnya dan sedikit basa-basi.

Setelah itu, mulailah Sang Bapak  itu menggodaku dan bertanya apakah isi tas gandum yang aku bawa?

Aku pun menjawab, biasa uang tagihan di pasar, tapi dia sangat yakin isi dalam tas gandum itu adalah ular pesugihanku. Ha ha ha

Sambil bercanda kami pun bicara tentang a sampai z, hingga dia cerita punya anak masih kuliah di Jogja.

“Anakku cantik loh, kalau tidak percaya ini lihatlah!” ujarnya sambil menyodorkan fotonya naik jeep bersama dirinya di pantai Pasirpadi Pangkalpinang.

Saya melihat sekilas, memanglah kalau melihat bapaknya seperti Bule, pasti anaknya juga seperti blasteran.

“Iya khan, cantik khan?” ujarnya seperti minta persetujuanku.

Dia mengaku nantinya ingin mencari menantu yang baik dan bisa merawat dan membimbingnya.

Konon, katanya putrinya yang cantik itu  walau sudah di kuliah tapi sifatnya seperti anak-anak dan masih suka bermanja-manja pada bapaknya.

Seolah mengerti pikiranku, dia bilang “Yang pasti menantuku bukan yang suka pakai tas gandum dan sandal jepit,” ujarnya sambil tertawa ngakak.

“Apalagi katanya orang yang suka memakai sandal jepit itu sudah menikah di Jawa, iya khan?” ujarnya seolah-olah menyesalinya (ha ha sombong dikit lah).

“Sayang kamu nggak punya adik ya Tur?” ujarnya.

Tanpa terasa perbincangan kami terasa cepat dan saya pamitan sambil memancal sepeda motor kantor yang biasa dinaiki editorku yang sering mengatakan padaku sangat manis dan imut-imut. he he

“Besok, saya dikabarinya ya, apa isi tas gandummu,” ujarnya sambil terkekeh. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*